meta content='IE=EmulateIE7' http-equiv='X-UA-Compatible'/> Maraza's Antology: cerbung
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

Mbakyuku Kinasih 4 : Cintaku dan Pencitraan Subakti

Akhirnya aku benar-benar dibebaskan. Meski untuk sampai ke sana perlu waktu hampir satu bulan. Setelah Sanusi dan Tomo tertangkap kembali hampir seminggu setelahnya, pihak lapas melakukan kroscek antara aku dan dua pelarian itu. Dan aku dinyatakan bersih.
“Alhamdulillah…” Cuma itu yang mampu kuucapkan dalam sujud syukurku di depan gerbang lapas. Lega rasanya bisa melihat kembali lalu lalang orang di jalanan, menikmati hangatnya sinar matahari, melihat senyum bijak bapak angkatku yang menjemputku dan aku bisa kembali melihat Utari.
Utari. Bagaimana keadaannya sekarang? Jujur aku khawatir. Wanita manapun pasti tertekan jika mengalami kejadian seperti itu. Apalagi Utari yang begitu sholeha dan selalu menutup rapat auratnya. Baginya pasti ini merupakan aib dan trauma yang tak kan mudah terhapus begitu saja. Sudah bertahun-tahun Utari menjaga kesetiannya pada mendiang suaminya bahkan sampai menolak pinanganku. Tapi justru kejadian tragis itu yang harus diterima sebagai imbalannya.
“Gimana keadaan Mbakyu, Ken?” tanyaku pada Niken saat aku mengunjungi kediaman Utari, sehari setelah aku bebas. Bu Etik ibunya Niken juga ikut menemaniku ngobrol.
“Ya gitu itu Mas. Secara fisik sih mbak Ut itu sehat. Tapi batinnya masih trauma mas. Ndak pernah mau keluar kamar kecuali untuk wudhu dan mandi. Mandinya pun lama banget. Dia selalu merasa badannya penuh najis dan ingin menghilangkannya sampai habis”
Aku tertegun. Mataku membasah. Miris mendengar cerita tentang Utari. Hidup sendiri tanpa keluarga dan harus mengalami kejadian menakutkan sekaligus menjijikkan. Andai saja dulu Utari tidak menolak lamaranku, tentu aku bisa membelanya sekuat tenagaku. Tak kan kubiarkan seorang pun menyakiti Utari biar hanya seujung kuku.
Tapi toh aku cuma manusia biasa. Selayaknya titah di muka bumi ini, aku hanya harus tunduk dan patuh, serta ikhlas menerima apapun yang digariskanNya untukku.
“Aku boleh menemuinya, Ken?”
“Boleh saja Nak Widodo. Tapi jangan kaget kalau melihat reaksi Utari” Bu Etik mengingatkanku.
“Kenapa Bu?”
“Itu lho Mas, Mbak Utari itu ndak pernah bisa ketemu sama laki-laki. Setiap melihat laki-laki dia selalu histeris. Bahkan waktu dulu baru pulang dari rumah sakit, dia selalu kalap dan menyerang lelaki manapun yang datang menjenguknya. Bapakku dan Pak Marsudi pernah dilempar dengan asbak dan dicakar. Tapi kami semua memaklumi, mungkin dia trauma”
Kupejamkan mataku. Ada perih di ulu hati ini. Tapi aku harus bicara pada Utari. Kalau pun untuk itu aku harus menerima lemparan asbak, cakaran atau apapun yang menyakitkan aku rela. Dan semoga Allah memudahkan aku untuk menemui Utari. ‘Bismillaahiromaanirrohim…’ batinku sambil menyibakkan tirai kamar Utari.
“Assalamu’alaikum. Mbakyu…ini aku Widodo…” aku menyapanya dengan hati-hati karena takut mengagetkannya. Saat itu dia nampak sedang termenung di kursi rotan menghadap keluar jendela kamarnya.
Seketika dia menoleh ke arahku dan langsung wajahnya memucat. Dia berdiri dan seperti yang diceritakan Niken juga ibunya, dia langsung menyerangku dengan kursi rotan yang tadi didudukinya. Kursi itu mengenai tulang keringku. Nyeri. Tapi aku tak peduli dan sengaja tidak menghindari serangan Utari.
Usai melemparku denga kursi kembali Utari melemparkan vas bunga dan beberapa benda lain, namun tak sampai mengenaiku meski aku tak menghindar. Wajahnya kian memucat dan air matanya berlinang. Dia terus saja menjauh hingga tersudut di pojok kamarnya yang berdinding biru itu.
“Pergi kamu! Jangan sentuh saya! Saya ndak mau lihat kamu lagi! Pergiii….!” Utari menangis histeris. Air matanya kian menganak sungai. Tak tega aku melihatnya begitu. Terduduk bersimpuh pasrah di antara ranjang dan dinding.
“Istighfar, Mbakyu. Ini Widodo. Saya cuma ingin menengok Mbakyu…” aku mencoba meredam tangisnya, tapi malah makin menjadi. Dibenamkan wajahnya diantara kedua lutut yang merapat ke dada. Bahunya berguncang hebat. Sementara kepalan tangannya memukul-mukul lantai. Hatiku sakit melihatnya. Dia memang orang lain, tapi dia punya tempat khusus di hati lelakiku yang haus kasih.
“Pergilah…Dhimas! Jangan pernah berharap apapun dari saya lagi. Saya tidak pantas lagi untuk Dhimas. Saya kotor dan menjijikkan…” Utari mencoba membuatku pergi. Tapi bukan Widodo Jatmiko jika mundur teratur. Kucoba medekatinya perlahan. Tak berani kusentuh dia meski sebenarnya sangat ingin memeluknya. Sekedar memberikan rasa aman yang setelah kejadian itu mungkin tak pernah dia rasakan.
Mbakyu, kotor atau tidaknya manusia, menjijikkan atau tidak, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Apalagi semua ini bukan salah Mbakyu. Mbakyu cuma korban. Selama dalam hati Mbakyu masih ada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai RosulNya, saya akan tetap mecintai Mbakyu. Bagi saya, Mbakyu tetap Sri Utari yang saya kenal, yang santun dan sholeha”
Utari masih saja menangis. Tapi nampaknya dia memahami ucapanku bahwa aku tak peduli pada kondisi fisiknya seperti apa dan tetap mencintainya. Cukup lama menunggu hingga tangisnya mereda dan kembali menegakkan kepalanya memandangku lekat. Mata sembabnya seolah menanyakan kesungguhanku. Aku tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kumiliki.
“Saya bisa pegang janji Dhimas?” tanya Utari di sela isak tangisnya. Aku hanya mengangguk pasti. Tapi aku berharap itu cukup menjadikan jaminan bahwa aku akan selalu menjaga dan melindunginya.
Di luar kamar kulihat Niken dan ibunya berpelukan. Mereka menangis meski bibir meraka tersenyum. Seolah mereka ingin mengatakan, mereka bahagia melihat aku dan Utari saling mencintai.
******
“Ini pencitraan Wid” kata Sanusi saat aku membesuknya di lapas pagi itu. sebulan setelah aku bebas.
“Maksudmu apa San?” tanyaku tak mngerti.
“Ini kasus yang sengaja diciptakan oleh Subakti untuk pencitraan. Selama ini dia sipir yang paling tidak pernah dapat penghargaan meski sudah berkerja belasan tahun. Dengan kasus yang dia buat dan dia selesaikan sendiri dia berharap dapat citra positif dari pimpinan dan kemudian dapat penghargaan” setengah berbisik Sanusi menjelaskan makna kata “pencitraan” yang disematkannya pada sipir Subakti.
Sanusi memang divonis cukup lama. Lima belas tahun penjara. Saat aku masuk lapas ini dua setengah tahu yang lalu, dia sudah menginap di hotel prodeo ini selama delapan tahun. Jadi sangat mungkin dia paham segala sesuatu termasuk tentang sipir Subakti.
Aku mengembuskan nafasku dengan keras. Kesal. Kok masih ada orang-orang seperti Subakti di muka bumi ini? Tak bisakah mendapatkan sesuatu dengan cara yang lebih elit dan terpuji? Pantas saja tamparan dan tinjunya begitu keras mengenai mukaku. Mungkin pelampiasan rasa kesalnya.
“Tapi….ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu Wid. Dan aku harap kamu tidak terkejut mendengarnya…”
“Soal apa?”
“Soal Utari”
“Kenapa dengan Utari?”
“Subakti juga demen(suka) sama Utari bahkan sejak sebelum menikah dengan mendiang suaminya”
“Dari mana kamu tahu?”
“Sebenarnya aku tetangga Utari di Klaten. Subakti itu teman sekolah Utari waktu SMA. Sejak dulu dia memang menginginkan Utari tapi tidak pernah dianggep karena orangnya kasar dan berangasan. Akhirnya Utari memilih Yusuf yang alim dan jebolan pesantren. Sayangnya tak lama setelah menikah, Yusuf meninggal dunia”
“Lantas, apa ini juga berhubungan dengan kaburnya kalian malam itu?” Sanusi tidak menjawab tapi mendadak wajahnya memucat seperti sedang ketakutan. Tiba-tiba dia bersimpuh dan mencium kakiku.
“Maafkan aku dan Tomo, Wid…maafkan kami”
“Hei…ada apa?! Udah berdiri saja. Aku bukan ibu atau bapak kalian. Kalau merasa salah yo ndak usah sampai nyembah-nyembah seperti ini. Cuma Allah saja yang layak disembah. Ayo berdiri!” Aku membimbing Sanusi untuk berdiri.
“Memangnya kalian punya salah apa sama aku? Toh pada akhirnya terbukti kan, aku bersih dan tidak terlibat dengan kaburnya kalian?” Sanusi hanya menunduk. Tapi aku melihat dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut atau ragu. Kemudian dia merangkulku dan membisikkan kalimat yang hampir saja membuat aku meninju mukanya.
“Perkosaan Utari…kami berdua pelakunya Wid. Semua atas suruhan Subakti”
Aku melepas rangkulan Sanusi dengan kasar dan kuhempaskan tubuhnya di kursi ruang besuk. Aku terkejut, marah, geram jengkel tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kutatap tajam mata Sanusi. Ingin rasanya aku melumatnya hidup-hidup. Tapi percuma. Toh perkosaan itu sudah terjadi dan kekesalanku tak mengembalikan apapun malah menambah rasa cintaku pada Utari.
“Aarrrggghhh…! Brakk!” aku menggeram sambil menggebrak meja dengan kasar. Tak ada sipir yang menegur. Sepertinya mereka paham apa yang membuat aku kesal dan marah. Kutatap tajam mata Sanusi yang terlihat tak berdaya dengan kemarahanku.
“Tolong katakan padaku, kenapa kalian sampai hati melakukan itu? Kalian kan tahu, aku begitu mencintai Utari!”
“Subakti ingin semua pria menjauhi Utari setelah tahu dia tak suci lagi. Dan setelahnya dia akan merengkuh Utari berlagak sebagai penyelamat”
Kukepalkan tanganku kuat-kuat menyalurkan geram yang masih tersisa. Kalau tidak lupa pesan sipir Hakim untuk tidak melanggar hukum lagi, aku pasti sudah cari Subakti di manapun dia berada dan menghabisinya saat itu juga. Meski taruhannya adalah tiang gantungan.
“Kalau kamu benar-benar mencintai Utari, segera nikahi dia Wid. Jaga dan lidungi dia dari orang-orang seperti Subakti. Tapi kamu juga harus hati-hati, karena bukan tidak mungkin dia akan merasa dilancangi jika tahu kamu menikahinya. Sekali lagi, aku dan Tomo minta maaf. Silakan saja kalau setelah ini kamu tidak akan pernah membesuk kami lagi”
Aku kehabisan kata-kata. Aku hanya paham satu hal, aku memang harus segera menikahi Utari. Sebentar lagi Ramadhan. Aku ingin mengecap indahnya Ramadhan bersamanya. Aku juga ingin bisa selalu menjaganya seumur hidupku, bukan hanya sebagai Mbakyu Kinasih, tapi sebagai garwa kinasih, belahan jiwa terkasih.
Semoga saja…..(bersambung)

Senin, 08 Juli 2013

Mbakyuku Kinasih 3 : Firasat dan Kebebasan yang Tertunda

“Gimana Wid, ndak diangkat?” tanya sipir Hakim saat melihatku meletakkan gagang telepon dengan wajah muram. Aku menggeleng. Resah. Itu yang kurasakan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi kali ini ada perasaan tidak enak, seperti terjadi sesuatu pada Utari.
“Ah..semoga tidak” sanggah batinku.
“Ya sudah, nanti kamu coba lagi. Atau kamu juga bisa pakai HP saya kalau mau. Satu operator kok” Aku tersenyum tipis. Tapi tak juga mampu mengurangi resahku. Dan sepanjang hari itu aku lebih banyak diam.
“Astaghfirullah hal adziim…ampuni kegundahan ini Ya Allah. Lindungi dia dari mara bahaya. Amiin” Biasanya aku hanya berdoa untuk diriku sendiri dan keluargaku. Tapi entah mengapa dalam sholatku kali ini aku ingin berdoa untuk Utari, Mbakyuku Kinasih. Perempuan yang sudah mengisi salah satu sudut di hatiku. Ibarat mainan anak-anak…apa ya namanya? Ah ya.. puzzle! Ibarat puzzle, jika satu kepingnya saja hilang, maka bentuk gambarnya takkan sempurna.
Utari sudah mulai memenuhi seluruh alam pikiranku meski aku tidak tahu apa sesungguhnya yang ada di hati Utari. Ah…rasanya tak kan cukup jika kutuliskan rasa ini dalam bentuk buku. Bahkan mungkin, novel terkenal seperti Ketika Cinta Bertasbih pun tak akan bisa mengisahkan seluruh rasaku pada Utari.
Tapi nampaknya aku harus besabar untuk menunggu kebebasan itu datang. Dua hari menjelang kebebasanku, lapas geger. Dua rekan satu selku, Sanusi dan Tomo kabur. Dan apesnya, mereka kabur dari ventilasi di atas ranjang selku.
“Plak..! Plak..! Sudah ngaku saja!” tamparan sipir Subakti ternyata cukup keras. Apalagi dia menampar bukan dengan telapak tapi punggung tangan. Batu akik di cicinnya itu pasti sudah melukaiku. Kurasakan perih dikedua sudut bibirku. Aku meringis menahan sakit. Apalagi sejak semalam aku demam dan kepalaku sangat pusing. Tamparan itu membuat kepalaku semakin berdenyut. Ditambah lagi, lampu hemat energi yang berada tepat di atas kepalaku, semakin membuat kepalaku sakit.
“Saya nggak tahu pak. Semalaman saya ada di ruang kesehatan. Saya demam dan tidur di sana dijaga oleh sipir Hakim dan Taufik. Silakan tanya pada mereka” Aku mencoba meraba bibirku. Berdarah.
“Betul begitu sipir Hakim?!”
“Betul Pak. Semalaman Widodo bersama saya dan sipir Taufik di ruang kesehatan. Badannya demam”
“Tapi mereka kabur dari ventilasi di ruang selmu. Nggak mungkin kamu nggak tahu!” sipir Subakti masih saja memaksaku mengaku bahwa aku terlibat dalam kaburnya Sanusi dan Tomo.
“Apa kalau mereka kabur lewat sana, selalu atas persetujuan saya? Atau karena saya akrab dengan mereka, saya dianggap setuju mereka kabur?” aku mencoba membalikkan pertanyaan sipir Subakti dengan pertanyaan pula. Tapi tak kusangka aku kembali mendapatkan ‘hadiah’
“Dugh…!” kali ini tinjunya melayang tepat di pipi kananku. Nyeri. Bahkan hampir saja kursi yang kududuki terjungkal saking kerasnya. Aku tidak tahu dari mana sipir Subakti dapat ilmu kekerasan ini. Mungkin dia kebanyakan nonton film-film Arnold Schwarseneger, Sylverster Stalone, atau Steven Seagal. Apa yang dilakukannya padaku hari ini sama persis dengan yang sering kulihat di film-film itu. Ruang yang temaram, lampu yang hanya satu tepat diatas si pesakitan dan sipir berbadan besar yang galaknya bukan kepalang.
“Arrhrgghh….” Pipiku terasa sangat perih, bukan cuma nyeri. Pasti batu akik itu sudah menggoresnya lagi. Diantara keremangan sudut ruangan. Aku melihat sipir Hakim mengucapkan sesuatau yang tak terdengar tapi bisa kubaca “Kamu lebih baik diam. Cari aman” sambil meletakkan telunjuknya di bibir.
Aku mencoba mengerti isyaratnya. Tapi jujur saja aku tidak terima diperlakukan seperti ini. aku bukan tahanan baru dan besok seharusnya aku sudah keluar dari penjara ini. Apalagi sebagai sipir, seharusnya dia mengayomi binaannya bukan menyiksa. Kalaupun harus bertanya, tak bisakah dengan cara yang lebih baik? Kami memang pesakitan. Tapi kami juga punya perasaan. Kami punya hati.
Tubuhku terasa gemetar. Panas badanku yang semula sudah turun mendadak terasa seperti semalam. Aku menggigil. Tapi nampaknya Subakti bukan orang yang mudah iba. Tetap saja interogasi plus penyiksaan ini berlanjut.
“Sekali lagi saya tanya…! Kamu tahu mengapa dan ke mana mereka melarikan diri?! Ayo jawab?!” sipir Subakti kembali menanyaiku, tetap dengan bentakan keras yang menyakitkan telinga dan ulu hatiku.
“Sampai kapanpun saya tidak akan pernah bicara, Pak. Karena saya memang tidak tahu apa-apa. Percuma saja Bapak menampar atau memukul saya. Saya akan tetap bungkam” dengan tubuh gemetaran menahan rasa dingin yang tiba-tiba menyerang, aku menjawab pertanyaannya. Tapi…
“Plak….! Plak…! Dugh…!” kembali dua tamparan dan satu tinju dihadiahkan untukku. Pandanganku berputar. Aku mencoba menegakkan kepalaku namun semakin berputar. Kemudian pandanganku berubah gelap. Tapi sebelum semuanya benar-benar lenyap dari pandangan dan pendengaranku aku masih sempat mendnegar sipir Subakti menggebrak meja di sampingku, juga suara-suara sipir Hakim dan Taufik memanggil-manggil namaku.
“Wid…! Widodo….! Bangun Wid…! Widodo….!”
Tapi aku tak mampu lagi bersuara. Semua lenyap. Gelap.
******
Aku membuka mataku. Buram. Kepala ini masih berdenyut. Nyeri. Aroma obat-obatan langsung menyeruak menusuk hidungku. Kucoba menggerakkan jemari tanganku. Kaku. Wajahku pun terasa nyeri dan pedih. Samar mulai kulihat apa yang ada di sekitarku.
“Di mana ini? Pasti di ruang kesehatan. Tapi mengapa tak ada gambar pak SBY dan Budiono? Ah pasti di tempat lain” aku membatin. Kemudian mulai kulihat bayangan beberapa orang di sekitar tempat aku terbaring.
“Widodo Jatmiko….kamu sudah sadar?” suara yang sangat kukenal. Sipir Hakim. Sipir paling sabar di lapas. Aku menoleh ke arah suara itu. Mencoba tersenyum namun sakit sekali bibirku.
“Alham…dulillah..pak…” Cuma itu yang keluar dari mulutku. Kupejamkan lagi mataku karena jutaan kunang-kunang masih beterbangan di sana.
“Kamu tadi pingsan cukup lama. Jadi kami bawa ke rumah sakit. Kamu istirahat saja dulu di sisni. Saya dan pak Hakim yang akan menemani kamu. Ada juga beberapa polisi diluar sana menjaga pintu” kali ini kudengar suara sipir Taufik. Dua orang sipir ini memang paling akrab dengan warga binaan. Mereka sering dijadikan tempat curhat. Bahkan bang Dorman yang penjahat kambuhan dan terkenal garang pun sungkan jika berhadapan dengan kedua sipir berwibawa ini.
Oh..jadi ini rumah sakit. Polisi? Astaghfirullah…tak cukupkah hanya sipir Hakim dan Taufik saja yang menemaniku? Aku sudah akan bebas tapi masih diperlakukan seperti penjahat baru yang mencoba kabur. Tapi ya sudahlah…mungkin ini ujian buat kesabaranku. Karena pasti kebebasanku akan diundur hingga teman-temanku tertangkap kembali dan diproses serta aku dinyatakan benar-benar bersih dan tidak terlibat.
“Bisa ..pinjam….ha..penya pak….” Kataku terbata. Entah kenapa aku ingin sekali mendengar suara lembut dan santun Utari. Saat aku tidak berdaya seperti ini, selain Sang Maha Rahim, Utari lah yang aku ingat. Apalagi beberapa hari lalu, aku gagal memberitahukan kebebasanku. Kali ini aku ingin kembali memberinya kabar.
“Kamu ingin menghubunginya lagi? Siapa namanya? Ah iya…Utari! Kamu ingin menelpon Utari?” sipir Hakim tersenyum padaku dan memberikan hapenya. Aku pun tersenyum meski lebih panyas disebut seringai karena bibirku dan wajahku sakit luar biasa. Dan hape yang tipis itu pun terasa begitu berat karena tenagaku yang belum pulih.
“Assalamu’alaikum….” Terdengar sebuah suara. Tapi bukan Utari. Suara seorang ABG 18 tahunan.
Sapa… iki(siapa ini)?”
“Niken Mas, anaknya Bu Etik. Ini Mas Widodo?! Bener kan mas, ini mas Wid?! Kapan dibebaskan mas?!?”
“Iya…Ken..ini Widodo. Aku…aku masih di lapas. Mana mbak Utari? Kok kamu yang angkat?” dadaku mulai berdebar. Resah itu mulai datang. Tidak mungkin orang lain bisa sembarangan ngangkat telpon Utari kalau tidak ada sesuatu yang mendesak.
“Mas…mbak Utari….mbak Utari….Aduh, gimana ini ngomongnya ya?” Niken terdengar bingung.
“Mbak Utari…..kenapa Ken? Kamu…kamu bicara saja, ndak usah takut” aku berusaha menenangkan Niken meski aku sendiri tidak tenang.
“Mbak Utari kena musibah mas. Semalam didatangi dua orang nggak dikenal. Terus dirudhapeksa(diperkosa) dan ditikam pakai pisau. Sekarang ada di rumah sakit. Belum sadar. Kalau mas Wid…….”
Aku tak sanggup lagi mendengarkan ucapan Niken. Kepalaku berdenyut makin kuat. Mataku kembali berkunang-kunang. Tak sangup lagi kugenggam hape sipir Hakim. Lemas seluruh sendiku. Utari diperkosa dan ditusuk orang? Pria bejat mana yang berani mendzolimi Utari? Dulu aku memang penah hampir melakukannya. Tapi kuurungkan. Yang kucintai tak mungkin kulukai. Tapi sekarang?
Pandanganku gelap. Kurasakan hape itu lepas dari genggamanku dan…Klak! Jauh ke lantai kamar. Sementara masih terdengar suara Niken dari speaker memanggil namaku, diikuti suara sipir Hakim dan Taufik berusaha menyadarkanku.
Tapi aku tak sanggup lagi menjawab. Semua gelap. Lenyap.(bersambung)

Jumat, 05 Juli 2013

Mbakyuku Kinasih 2 : Surat Yang Tak Kumengerti Maknanya

-->
Ramadhan datang lagi. Berarti sudah setahun aku jadi pesakitan. Memang, jika dihitung dari saat aku masuk lapas, aku baru sepuluh bulan berada disini. Tapi jalannya pemeriksaan dan persidangan hingga vonis dijatuhkan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Jadi sejak peristiwa dini hari itu, sudah setahun aku terkurung. Padahal vonis hukumanku 3 tahun penjara. Vonis yang sangat tidak sepadan dengan yang sudah kulakukan.

Tapi aku memaklumi. Aku cuma rakyat jelata, sementara pihak yang menjadi ‘korban’ adalah anak pejabat. 

Ya. Pemuda mabuk itu memang anak seorang pejabat. Dan sudah menjadi rahasia khalayak bahwa pejabat bisa melakukan apa saja pada rakyat jelata seperti aku. Geram rasanya jika mengingat bahwa sebetulnya aku tidak bersalah. Tapi sayangnya aku tidak punya bukti cukup kuat untuk membela diri.
Akhirnya aku memilih untuk menjalani saja hukuman ini. Anggap saja ini hukuman karena aku telah mencoba untuk menggagahi Utari.

Ah…Mbakyu, bagaimana kabarmu sekarang? Masihkan kau berjualan Pecel dan Tempe Mendoan? Atau, masihkah engkau berjalan kaki ke pasar selepas Subuh? Aku merindukan saat-saat itu Mbakyu. Saat dimana kau berjalan di depanku dan mengucapkan sapaanmu yang santun. Masihkah kau selalu mengunci rapat pintu rumahmu seperti kau mengunci pintu hatimu? Adakah kau….

“Widodo Jatmiko, ada tamu untukmu!” tiba-tiba saja sipir Taufik sudah di depanku dan membuyarkan bayangan indah Utari yang baru saja kulukis dengan sisa keberanianku. Karena memang aku tak pernah berani lagi membayangkan wajahnya. Setiap itu kulakukan, pasti yang terlihat adalah gurat ketakutan dan linangan air mata di wajah pucatnya. Dan semua itu akibat ulahku.
*****

Aku hanya menunduk tak berani menatap wajahnya. Sementara kedua tanganku saling meremas, menghilangkan rasa tak nyaman yang hadir, saat aku tau siapa pembesukku di pagi ke delapan Ramadhan ini.

“Apa kabar Dhimas? Dhimas baik-baik saja?” Utari memecah kesunyian setelah cukup lama kami hanya terdiam.

“Alhamdulillah…” kupejamkan mataku menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang dadaku. Kutarik nafas dalam-dalam mencoba untuk melegakannya.

“Alhamdulillah saya baik-baik saja. Mbakyu sendiri bagaimana? Sehat?” kuberanikan diri untuk bertanya meski aku sadar itu pertanyaan yang sangat bodoh. Kalau tidak baik-baik saja, mana mungkin dia sampai kemari?

“Alhamdulillah, seperti yang Dhimas lihat, saya baik-baik saja. Ini saya bawakan sedikit makanan untuk berbuka puasa” Utari menyodorkan kotak makanan berwarna putih dengan tutup merah muda.

Aku tertegun. Perempuan ini sungguh mulia. Aku sudah pernah mencoba untuk memperkosanya. Tapi justru dia orang pertama selain bapak angkatku yang datang membesukku di sini. Tempat yang sangat tidak layak untuk didatangi perempuan seperti Utari.

Aku menyeka air mataku yang mengalir tiba-tiba tanpa diminta. Nafasku kembali sesak dan dadaku nyeri. Sendi-sendiku pun terasa lemas. Rasa berdosa itu kembali datang melihat ketulusannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan perasaan itu menghilang dengan sendirinya.

“Maafkan saya Mbakyu…maafkan saya….” Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Aku tak sanggup lagi menahan kalimat itu lebih lama lagi. Aku merasa harus mengungkapkannya. Dan setelahnya aku merasa lebih lega meski tangisku tak juga mereda.

Lalu kurasakan sentuhan lembut di bahuku. Aku tahu itu tangan Utari. Tapi aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya kudengar suara kaki kursi yang bergeser dan langkah kaki yang semakin menjauh. Saat kutegakkan kepalaku, aku melihat Utari melangkah ke arah pintu. Tersenyum santun pada sipir penjaga dan kemudian menghilang di balik pintu besi gerbang penjara ini. Aku hanya bisa terpaku menatap punggungnya hingga sipir Taufik menarik tanganku dan membawaku kembali ke sel.
*****

Adzan Maghrib berkumandang dari mushola lapas. Segera kubatalkan puasaku dengan segelas teh yang sudah siap di meja makan. Sementara kotak makanan pemberian Utari yang ternyata berisi Pastel dan Lemet juga kubawa karena ingin berbagi dengan teman-temanku. Saat kubuka tutupnya, kutemukan kantong plastik klip yang bersisi lipatan kertas. Ternyata sepucuk surat dari Utari.

Assalamu’alaikum Wr Wb

Dhimas Widodo Jatmiko,
Saya menulis surat ini sebagai permintaan maaf saya karena sudah pernah menolak lamaran Dhimas. Peristiwa dini hari itu menyadarkan saya bahwa sebenarnya Dhimas tulus dan tidak main-main. Dan saya juga menjadi paham apa yang akan terjadi jika sebuah ketulusan mendapatkan penolakan. Meskipun saya tidak menyangka Dhimas akan senekad itu.

Dhimas, apa yang Dhimas lakukan pagi itu memang membuat saya ketakutan. Sangat ketakutan hingga tidak berani keluar rumah karena takut bertemu dengan Dhimas. Tapi itu tak berlangsung lama. Saya segera paham mengapa Dhimas melakukan hal itu. Hati lelaki memang berbeda dengan wanita. Jika seorang wanita tertolak cintanya, umumnya mereka akan menangis. Tapi jika lelaki yang tertolak, ternyata berbeda kejadiannya.

Dhimas, berbuat baiklah selama dalam tahanan. Dapatkan pengurangan masa tahan sebanyak mungkin. Jangan lupa untuk selalu mendekatkan diri pada Gusti Kang Murbeng Jagad. Apalagi ini bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Mintalah padaNya untuk menjaga hatimu agar terhindar dari perbuatan tercela yang membuatmu tinggal lebih lama lagi di penjara.
Jika saat kebebasan itu datang, tolong kabari saya. Saya ingin menjadi orang pertama yang menyambutmu dengan senyum di gerbang lapas.

Dari Mbakyumu
Sri Utari (08125250375)

Jujur aku tidak mengerti apa makna dari surat Utari terutama paragraf terakhir. Tapi yang pasti aku merasa lega karena Utari sudah memaafkanku meski hanya tersirat pada kata-kata dalam suratnya. Utari juga menungu kebebasanku.

Ah….Sri Utari Mbakyuku Kinasih, aku akan turuti nasihatmu. Aku akan berlaku baik dalam penjara. Sisa masa hukuman yang masih dua tahun ini akan kubuat menjadi lebih singkat lagi. Dan aku akan mengabarimu jika saatnya tiba nanti. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang kulihat saat sipir penjaga membuka pintu besi di depan sana, dan membiarkanku menghirup udara bebas.

Tunggu aku Mbakyu, aku akan kembali untukmu…(bersambung)